Minggu, 12 Agustus 2012

Hujan Turun, Terus?

Pernah nggak ketika hujan turun, kita justru mengeluh? 
Atau malah sibuk mempertanyakan kenapa hujan harus terjadi?
Semisal.....

'Yah kok hujan sih?'
'Ganggu banget nih hujan. Mbok ojo turun dulu ngopo sih?'
'Coba kalo nggak hujan.....'
'Hujannya rese, nggak tau apa gue punya urusan penting?'

Atau parahnya begini....
'Ah aku benci hujan! Ngrusak semuanya!'
'Tuhan... Kenapa harus hujan? Berhentiin dong, Tuhan'
'Hujan itu menghambat semuanya!'
'Yah hujan emang pengganggu. Tuhan nggak pengertian :('

And many more complain about this phenomenon.

Tapi sebenernya, in fact bahwa saat hujan itu justru waktu dimana Allah berada dekat pada umatnya, waktu Dia mendengar dan ma'bulnya do'a.


Apabila Allah memberi nikmat hujan, dianjurkan bagi seorang muslim dalam rangka bersyukur kepada-Nya untuk membaca do'a,
اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً
"Allahumma shoyyiban naafi'aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]."
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan, "Dianjurkan untuk berdo'a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
اُطْلُبُوا اسْتِجَابَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ ثَلَاثٍ : عِنْدَ الْتِقَاءِ الْجُيُوشِ ، وَإِقَامَةِ الصَّلَاةِ ، وَنُزُولِ الْغَيْثِ
'Carilah do'a yang mustajab pada tiga keadaan : [1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun."
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ
"Janganlah kamu mencaci maki angin (hujan)."
Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo'a,
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
"Allahumma haawalaina wa laa 'alaina. Allahumma 'alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan]."
Berarti ketika hujan, kita tidak diperbolehkan mencela atau ingin membuatnya berhenti?
Aku tertegun pas Nabi bilang Beliau ingin cuaca menjadi cerah, tapi Dia tidak memaksakan hujan berhenti. Dia hanya berdo'a agar paling tidak hujan tetap terjadi namun tidak di atas kepalanya, melainkan di tempat-tempat lain yang lebih bermanfaat.
Subhanallah aku juga nggak paham kenapa tiba-tiba ngepost tentang begini....
Mungkin agar aku lebih menghargai hujan :))






Kamis, 26 Juli 2012

Anak Jalanan (Lyric)


Anak jalanan kumbang metropolitan
Selama ramai dalam kesepian
Anak jalanan korban kemunafikan
Selalu kesepian di keramaian

Tiada tempat untuk mengadu
Tempat mencurahkan isi kalbu
Cinta kasih dari ayah dan ibu
Hanyalah peri yang palsu

Anak perawan kembang metropolitan
Selalu resah dalam penantian
Anak perawan korban keadaan
Selalu menanti dalam keresahan

Tiada restu untuk bertemu
Restu menjalin hidup bersatu
Kasih sayang dari ayah dan bunda
Hanyalah adat semata

Anak gedongan lambang metropolitan
Menuntut hidup alam kedamaian
Anak gedongan korban kesibukan
Hidup gelisah dalam keramaian

Tiada waktu untuk bertemu
Waktu berkasihan dan mengadu
Karena orang tua metropolitan
Hanyalah budak kesibukan

Anak jalanan metropolitan
Anak jalanan metropolitan

*How? Nancep banget kan liriknya?
 Dalem dan meninggalkan bekas.

*Dinyanyikan oleh Ikang Fauzi dalam soundtrack 'Anak Jalanan'
  Dan dipopulerkan lagi oleh Sandy Sandoro (For your information)

Rabu, 04 Juli 2012

Beautiful Places in Deutschland

Halooo lama tak berjumpa. Untuk kali ini sih aku cuma mau bagi-bagi gambar.
Gambar yang mampu memotivasi diri sendiri.
Entah akan bagaimana selanjutnya dan bagaimana menjangkaunya, tapi memiliki keinginan bukan sebuah dosa kan?


Berlin
Frankfurt
Munich
Muenchen
Bremen
Hannover
Potsdam
Kiel
Magdeburg
Erfurt
Wiesbaden
Schwerin
Mainz
Dusseldorf
Dresden
Saarbucken
Tempat-tempat ini indah bukan? 
Aku memang belum pernah melihat surga, tapi karena liat kota-kota itu jadi merasa yakin bahwa surga itu ada!
Bahkan akan lebih indah tentunya :)

Jumat, 18 Mei 2012

Supernova - Akar

Ditulis oleh Dewi Lestari di Supernova Akar

Engkaulah gulita yang memupuskan 
segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan
 dalam samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju
tempat tak bernama namun terasa ada

Ajarkan aku,
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi namun tak memilih pergi

Tunggu aku,
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu...

(catatan pada satu malam dingin hingga masuk angin)

Minggu, 13 Mei 2012

Menuju Puncak .....


Sebenernya ini pengalaman pertama buatku ikutan acara naik gunung beginian. Tujuan pertama ke Gunung Lawu, di daerah sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian 3265 mdpl.  Minim pengalaman tapi nekat aja tuh bilang ikut pas diajakin yang lain. Bermodal nekat pun kita yang berjumlah sekitar 45 orang itu berangkat hari Sabtu Siang pake truk. Perjalanan ke daerah sekitar Tawangmangu itu memakan waktu hampir 4 jam-an. Berasa kayak ikut Kuliah Lapangan ataupun Forestry Camping jilid kedua.
Sesampainya di basecamp, hujan pun malah dateng dan makin deres. Dengan terpaksa kita semua mulai naik dengan kondisi ekstrim. Kami dibagi jadi beberapa kloter yang per kloternya ada sekitar 8 orang.  Melewati pos bayangan yang menurutku track-nya lumayan terjal dan jauh. Perjalanan dilanjutkan ke Pos 1 dan Pos 2. Selama perjalanan, temen kami, Riassalma udah mulai keliatan capek, karenanya di Pos 2 Rias merasa nggak sanggup buat lanjut. Di Pos 3 pun Nisa juga memutuskan buat ngecamp di sini dengan alasan yang sama.

Dengan anggota yang berkurang, kita kloter 4 tetep lanjut ke atas. Wuih dinginnya angin lembah itu bener-bener nusuk tulang dan karena nggak punya cadangan lemak, aku takut kena hipotermia. Serius. Tapi nggak kerasa udah nyampe pos 4 dan kita mutusin buat ngecamp. Paginya kita lanjutkan perjalanan ke Sendang Drajat lalu lanjut ke Pos 5 dan beberapa jam kemudian sampailah di Puncak Hargo Dumilah. Total waktu perjalanan kami ditambah dengan istirahat hmmm sekitar 14 jam-an dari mulai naik jam 8 malem dan nyampe puncak jam 10an siang. Seneng sih, tapi saya juga mikirin nih, perjalanan belum selesei, masih ada perjalanan turun yang kata orang-orang lebih berat. NAH!






Dan terbukti selama perjalanan turun itu lebih membutuhkan ekstra kekuatan kaki. Lutut yang selalu ditahan tiap menuruni tapak-tapak, jari-jari kaki yang kesandung kesana kemari karena track yang licin. Sungguh suatu perjuangan deh!
Tau nggak? Perjalanan pulang yang memakan waktu sekitar 5-6 jam itu dilewati lagi dengan cuaca yang ekstrim, ya hujan deres. Entah kenapa saya merasa capek banget, karena semalaman nggak tidur atau emang udah kecapekan, rasanya pengen cepet-cepet sampe basecamp. Tapi liat perjalanan pulang yang nggak berujung itu jujur membuat semangat jadi malah down.
Akhirnya sampe basecamp juga dengan nyawa yang untungnya masih ada beberapa persen. Basah semua, super kedinginan dan liat temen-temen lain, Rias dan Nisa, saya langsung aja tuh ‘ndelosor’ ke bawah. Dan nangis! Wakakakakaka Bukan tanpa alasan tuh nangis, karena di atas saya nahan capek dan berusaha sama sekali nggak ngeluh, baru deh sampai di bawah saya nangis sebagai bentuk rasa seneng dicampur capek yang nggak ketulungan.
Dan nggak percaya aja orang dengan ukuran semini saya bisa juga nyampe puncak dan bisa turun dengan Alhamdulillah selamat sentosa tak kurang apapun :)
 
Terima kasih. Pengalaman saya bertambah karena perjalanan ini.

Jumat, 11 Mei 2012

General Lecture from IFSA on Earth Day 2012 – Adaptasi dan Mitigasi Terhadap Pemanasan Global

Cuma pengen ngesahare aja tulisan pertama saya yang baru pertama kali ini berbau ilmiah dan bukan curhatan doang. Baru pemula aja sebenernya, duluuu ditawarin ikut Pers Kehutanan, Lacak Balak nama kerennya. Dan ini my first posting disitu. Udah ah langsung aja ya. Ini diaaaaa

Dalam rangka menyemarakkan rangkaian acara Forestfest 2012, pada hari Jum’at, 27 April 2012, diadakannya General Lecture yang bertema ‘Adaptasi dan Mitigasi Terhadap Pemanasan Global’ oleh IFSA. Kuliah umum yang mengambil tempat di ruang III Fakultas Kehutanan ini diikuti oleh 22 peserta dari Fakultas Kehutanan dan 2 peserta dari Fakultas Teknologi Pertanian. Pembicara dari kuliah umum ini ialah Bapak Ir. Subaryono, MA, Ph. D. dari Pusat Studi Lingkungan.
Berbagai penyebab masalah lingkungan umumnya saling terkait dan tidak bisa terpisahkan dikarenakan lingkungan memiliki kompleksitas yang terus mengalami perubahan oleh adanya ketidakpastian yang terjadi terhadap alam. Seperti isu pemanasan global yang menjadi perhatian dan menuai banyak tanggapan dari berbagai pihak. Gas-gas Rumah Kaca di atmosfer mengalami kenaikan tiap tahunnya yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Jumlah karbon dioksida, metana dan nitrous dioksida mencapai jumlah yang semakin mengkhawatirkan.
Dampak yang diakibatkan dari masalah lingkungan tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan terus meningkatnya jumlah Gas Rumah Kaca, maka rata-rata temperatur global juga akan meningkat, dengan begitu terjadilah perubahan iklim yang signifikan dan berimbas dengan adanya kekeringan, kenaikan muka laut, peningkatan curah hujan dan badai serta berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada di bumi.
Untuk menghadapi perubahan iklim yang terjadi, maka perlu dilakukannya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Mitigasi merupakan tindakan untuk mengurangi sumber dan meningkatkan kemampuan untuk ‘penyerapan’ (sinks) Gas Rumah Kaca, misalnya dengan pengurangan bahan bakar fosil secara lebih efisien, beralih ke energi terbarukan, menghemat penggunaan listrik, melakukan daur ulang dan melestarikan hutan serta menanam pohon-pohon yang akan menyerap CO2. Konsentrasi Gas Rumah Kaca perlu distabilkan sampai dengan level dimana ekosistem dapat beradaptasi secara natural terhadap perubahan iklim, produksi pangan tidak terancam dan pembangunan ekonomi dapat berkelanjutan. Lalu diperlukannya upaya adaptasi untuk mengurangi kerentanan sistem alamiah dan manusia terhadap perubahan iklim. Meskipun ada optimisme pengurangan emisi dapat dilakukan, namun tidak akan dapat mencegah dampak lanjutan sehingga adaptasi menjadi tidak terhindarkan karena perubahan iklim dan dampaknya akan berlangsung dalam waktu yang lama.
‘Neither adaptation nor mitigation alone can avoid all climate change impacts, however they can complement each other and together can significantly reduce the risk of climate change’ (IPCC Fourth Assesment Report). (kap-dks )

Rabu, 11 April 2012

Renungan Pagi

Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar. Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya "Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?"

"Ya, tetapi aku tidak membawa uang," jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,"jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" Tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.

Pemilik kedai itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi, nasi dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih,
tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering lupa untuk berterima kasih.


Diambil dari terselubung.blogspot.com
Cuma pengen bagi-bagi renungan aja kalo kita lagi berada di posisi yg sama seperti cerita di atas.
Bacalah ini sebelum memutuskan marah dengan Ibu, Ayah atau orang tercinta lain..
Semoga bisa teringat dan bisa meredakan amarah kepada mereka. Salam!